Picture of author.

Eka Kurniawan

Autor(a) de Beauty is a Wound

13 Works 868 Membros 34 Críticas

About the Author

Eka Kurniawan was born on November 28, 1975 in Tasikmalaya, West Java, Indonesia. He studied philosophy at Gadjah Mada University, Yogyakarta. He writes novels, short stories, movie scripts and essays. His novels in English include, Beauty is a Wound and Man Tiger which won the 2016 Emerging Voices mostrar mais award for best novel. He also works as a journalist and designer. (Bowker Author Biography) mostrar menos

Includes the name: Eka Kurniawan

Image credit: Credit Dwianto Wibowo

Obras por Eka Kurniawan

Beauty is a Wound (2002) 470 exemplares
Man Tiger (2004) — Autor — 252 exemplares
Kitchen Curse: Stories (2019) 52 exemplares
O (2016) 5 exemplares
Grožis lyg žaizda (2018) 1 exemplar
Kumpulan Budak Setan (2016) 1 exemplar
Fegurð er sár 1 exemplar

Etiquetado

Conhecimento Comum

Data de nascimento
1975-11-28
Sexo
male
Nacionalidade
Indonesia
País (no mapa)
Indonesia
Local de nascimento
Tasikmalaya, West Java, Indonesia
Locais de residência
Jakarta, Indonesia
Educação
Gadjah Mada University
Ocupações
author
screenwriter

Membros

Críticas

The story opens with the murder of Anwar Sadat, a well-known womanizer in a small Indonesian hamlet. An irate teenage boar hunter named Margio initially admits to the murder, and one of Anwar's daughters, Maesa Dewi, was there at the time. However, Major Sadrah, the town's sole military commander, is unable to identify a motive. When Sadrah confronts Margio at the police station, he discloses that he is not the murderer; rather, Margio believes the crime was perpetrated by a ghostly ancestral tiger who lives inside his body.
This English translation was published in 2015 and along with Beauty is a Wound was his first work to be translated. Beauty is a Wound was Longlisted for the 2016 Booker International Prize
Eka Kurniawan writes beautifully, and his prose sparkles and has an easy flow to it. Comparisons to Gabriel Garcia Marquez would not be off the mark, and Man Tiger is both caustic and beautiful, with dark stories of Margio's unhappy family and its abusive father grounding the book's magical components.

I included this great little book of my list of Best SE Asian Novels to read..
https://quizlit.org/se-asia-best-books
… (mais)
 
Assinalado
Quizlitbooks | 13 outras críticas | Apr 20, 2024 |
Membaca Cantik Itu Luka bagaikan membaca kisah yang dekat dengan kepribadian bangsa sejalan dengan rincian sejarah yang apik. Novel ini memiliki konflik berlapis-lapis dalam rentang waktu sejak masa kolonial Belanda sampai Indonesia merdeka di Halimunda yang terletak di pinggiran pantai. Inilah kecerdasan Eka Kurniawan yang pertama: memunculkan sebuah daerah administrasi baru secara fantasi tapi berhasil memasukkannya dalam rincian sejarah Indonesia tanpa harus 'melukai' sejarah itu sendiri.
Kecerdasan penulis yang kedua menurut saya adalah bagaimana dia menceritakan bahwa: 1.) Sejarah akan terulang. 2.) Mental primitif sejak zaman kolonial tidak berhasil dihapus walaupun negara sudah merdeka dan Halimunda ikut merdeka. Bahwa kekerasan dan seks masih bahasa utama mengalahkan kecerdasan, diskusi yang baik dan keinginan untuk maju. Sejarah terulang kembali karena kolonial Belanda memporak porandakan Halimunda dengan kekerasan, kemudian terulang kembali ketika Jepang datang, lantas terulang kembali ketika perjuangan kemerdekaan, terus masih terulang ketika pemberantasan komunisme di Halimunda, dan akhirnya terulang ketika pembalasan dendam yang dilakukan oleh begundal-begundal Halimunda dipimpin Maman Gendeng, dibalas oleh Shodancho yang telah hidup melewati semua lintas kekerasan tersebut.
Seks terulang karena di zaman kolonial gundik menjadi komoditas, sedangkan di zaman Jepang pelacur dipakai untuk membuat tentara Jepang bersemangat, dan perpelacuran dipertahankan sampai Indonesia merdeka bahkan seakan-akan menjadi identitas Halimunda sendiri.
Tokoh-tokoh cerita ini bagaikan kekontrasan satu sama lain: 1.) Kamerad Kliwon, tampan dan pemberani bahkan jadi tokoh Partai Komunis terkemuka, diceritakan sebagai pemuda penakluk wanita dan akhirnya mati konyol setelah tak bisa setia dengan istrinya. 2.) Shodancho, sosok berpangkat militer yang lebih menyukai perang daripada masa damai sampai-sampai menaklukkan istrinya dengan cara serupa dengan perang. Pun akhirnya mati secara ironis oleh peliharaan-peliharaannya. 3.) Maman Gendeng, sosok bebal, preman yang semata-mata hanya menginginkan keluarga dan memang berniat insyaf, sekali lagi mudah menelusuri masa lalunya untuk membalaskan dendam meskipun akhirnya pergi dari dunia dengan cara lebih bermartabat daripada dua lelaki kuat lainnya. 4.) Alamanda, tahu betul kecantikan adalah senjata utama wanita, menggunakannya untuk mempermainkan pria dan akhirnya ia sendiri yang menderita akibat permainannya. Ironisnya lagi, ia menyembunyikan hal paling hina dari adiknya yang menyayanginya. 5.) Adinda, menyia-nyiakan kecantikannya untuk mencintai pria yang tidak mencintainya, akhirnya menderita karena suaminya meninggalkannya dan anaknya jadi lebih gila dari suaminya. 6.) Maya Dewi, anak terakhir pelacur Dewi Ayu yang begitu polos dan lugu, setelah berhasil menjinakkan begundal paling berbahaya di Halimunda justru melahirkan dan membesarkan anak yang sedemikian cantik tapi bodoh dan lupa memberikannya nasihat untuk melindungi diri. 7.) Ai, jatuh cinta kepada pria tapi gengsi dan akhirnya mencelakai diri sendiri. 8.) Krisan, tampan dan pemberani seperti ayahnya, tapi tak pernah belajar kesalahan ayahnya dan justru seperti mengulanginya semacam komedi amatir. 9.) Rengganis si Cantik, begitu cantik, polos dan disayangi ayah ibunya, tapi kecantikannya ternyata dibayar mahal dengan logika dan cara berpikirnya yang akhirnya membawanya pada celakanya sendiri. 10.) Dewi Ayu, hidup tanpa cinta dan harus mengandung rasa sakit sepanjang hidupnya, setelah mati pun masih harus melawan kutukan yang menghantui keluarganya.
Seperti sejarah, kutukan juga pada akhirnya akan terulang lagi dan lagi.
… (mais)
 
Assinalado
awwarma | 17 outras críticas | Jan 24, 2024 |
Bij magisch realisme denk je waarschijnlijk als eerste aan Marquez, en de Latijns-Amerikaanse literatuur, maar de meeste magisch realistische boeken die ik de laatste tijd las kwamen uit Azië. Zo ook ‘Beauty is a wound’ van de Indonesische schrijver Eka Kurniawan (1975). Dit boek verscheen oorspronkelijk in 2002, en kreeg pas jaren later een Engelse (2015) en Nederlandse (2016) vertaling. Kurniawan is één van de bekendste moderne schrijvers uit Indonesië en ik was heel nieuwsgierig naar zijn werk.

‘Beauty is a wound’ is in de kern een vrij traditionele familiegeschiedenis, zo eentje die zich uitstrekt over vijf generaties. Centraal daarin staan Dewi Ayu, een prostituee van onwaarschijnlijke schoonheid, en haar dochters, waarvan er drie de schoonheid van hun moeder hebben geërfd, en één juist helemaal niet. De familiegeschiedenis speelt zich af in de 20e eeuw, vanaf de koloniale tijd tot aan de jaren onder Soeharto. Die historische achtergrond is meteen ook het realistische aspect uit de term ‘magisch realisme’.

Verder is er niet veel realistisch aan het boek. Het speelt zich af in een (mooi beschreven) fictief stadje aan de zuidkust van Java en er gebeuren behoorlijk wat magische zaken. De toon wordt meteen al op de eerste pagina van het boek gezet, als Dewi Ayu 21 jaar na haar overlijden opstaat uit haar graf en doodleuk naar huis wandelt om te kijken hoe het met haar jongste dochter gaat. Dat is nog maar een voorproefje van hoe het verder gaat. De magische gebeurtenissen zijn doorweven met Indonesische/Javaanse mythologie, wat het tot een interessante maar soms ook lastig te begrijpen leeservaring maakt.

Hoewel er zeker elementen in het boek waren die me boeiden (de geschiedenis, en de wat sprookjesachtige sfeer) haakte ik naarmate het verhaal vorderde toch steeds verder af. Dat had te maken met de bijna achteloze manier waarop er in dit boek gesproken wordt over misbruik, verkrachting en femicide. Je kan je in slaap laten sussen door het magische sfeertje en het proberen te negeren, maar mij lukte dit steeds minder goed. De hoofdrollen in het verhaal lijken wel voor de vrouwen te zijn, maar uiteindelijk zijn hun karakters en levensgeschiedenissen nauwelijks uitgewerkt. Ze worden enkel beschreven in termen van uiterlijke schoonheid en de belofte van seks. De échte hoofdrollen zijn toebedeeld aan de mannen in hun levens, wiens karakters en levensgeschiedenissen wél tot in detail worden beschreven.

Kortom, een veelbelovend boek waarin ik met veel enthousiasme begon te lezen, maar dat mij naarmate het verhaal vorderde steeds minder kon bekoren en dat ik zelfs met enige tegenzin heb uitgelezen. Dat het verhaal aan het einde zo werd afgeraffeld door de schrijver deed die zaak zeker ook geen goed.
… (mais)
 
Assinalado
Tinwara | 17 outras críticas | Apr 17, 2023 |
Fiction, it has been argued multiple times, is a window into the human soul and the human imagination. Nowhere is this more explicitly evident than in Kurniawan's 'Man Tiger'-the wry tale of Margio and his innate supernatural white female tiger which he unwittingly unleashes upon his mother's lover. The novel follows Margio's musings, from the day he discovers the beast within to the moment it emerges in its predatory wrath.

Besides its plot, what is equally tantalizing about this novel is its English translation which I wholeheartedly believe to be reflective of the original. The nuance is present in both its native language and in its English allowing 'Man Tiger' to transcend linguistic barriers and impart a profound message about actions and their consequences across the generations.… (mais)
 
Assinalado
Amarj33t_5ingh | 13 outras críticas | Jul 8, 2022 |

Listas

Prémios

You May Also Like

Associated Authors

Annie Tucker Translator
Benedict Anderson Introduction
Etienne Naveau Translator

Estatísticas

Obras
13
Membros
868
Popularidade
#29,487
Avaliação
½ 3.7
Críticas
34
ISBN
71
Línguas
12

Tabelas & Gráficos